Oleh: Bunda Aisyah Maryam
Lagi, kebijakan pemkot Bogor menuai protes. Supir angkutan umum protes keberadaan Bus Stop BusKita.
https://trimedianews.com/protes-keberadaan-bus-stop-biskita-puluhan-sopir-angkot-trayek-21-demo-kantor-dishub-kota-bogor/
Tentu, pembuat kebijakan dibuat lelah dibuat dilema padahal ingin kebaikan untuk warga dan kota. Sama lelahnya dengan para supir angkutan umum yang merasa dirugikan.
Firman Allah SWT surat Thoha ayat 124 berikut patut menjadi renungan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”"
QS. Taha[20]:124
Para mufasir, seperti Ibnu Katsir dan ulama lainnya, menjelaskan makna ayat ini ke dalam beberapa poin penting:
1. Makna Berpaling dari Peringatan (Dzikri)Berpaling di sini berarti menolak perintah-perintah Allah, tidak mengindahkan wahyu atau Al-Qur'an, mengingkari para Rasul, dan lebih memilih mencari petunjuk hidup dari selain aturan Allah SWT.
2. Arti Kehidupan yang Sempit (Ma'iyasyatan Dhanka)Yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit bukan berarti selalu kekurangan harta. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ini mencakup hilangnya ketenangan jiwa, dada yang terasa sesak, diliputi rasa cemas, ragu-ragu, dan selalu merasa tidak puas meskipun secara fisik atau materi berlimpah. Sebaliknya, orang yang dekat dengan Allah akan memiliki kelapangan hati meski hidup dalam keterbatasan.
Dengan kerendahan hati, marilah kita renungkan. Bukankah penerapan sistem demokrasi sekuler artinya kita membuang hukum syariat yang bersumber dari Allah SWT?
Sungguh, selama kebijakan tidak berdasar hukum syari'at IsIam yang kaffah dalam bingkai institusi Khilafah, kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak akan solutif, cendrung menyelesaikan masalah dengan masalah baru.
0 comments:
Posting Komentar